Selasa, 16 Disember 2014

hidup

Kadang, aku terfikir; untuk apa manusia bersusah-susah meneruskan hidup yang amat, amat melelahkan ini?

Lepas pada pertanyaan diam aku itu, aku teringatkan perbualan-perbualan kosong yang kami lalui setiap hari.

Ya, berbaloi untuk lelah dengan kehidupan ini.

Sabtu, 18 Oktober 2014

iwoveyoutwee

I've been thinking a lot lately; by that, it means a lot more than usual. Of you going to London this morning, oh, how excruciating that feeling is! I know you can take good care of yourself but then, it still worries me. How much sillier can I be, eh?

I really am a playful creature, that I cannot argue. And no, I am not going to stop being playful, especially around you. Wanna know why?

"Was sich liebt, das neckt sich". 

You've asked me about this several days ago. I shall tell you now for I am too shy to tell you then (I forgot its meaning, actually). It means, "Those who love each other, tease each other". 

Well, that kinda explains everything, right? *evil laugh*


Dear dearest,

I see a glimpse of future in you; of me and you -- of us. I cannot promise you a smooth path upon us, but hey, we're good in screwing each other, right? So, I need you to cling on and kick me whenever, wherever you please; for I am yours, and yours only. Bear with me, darling. It's not an option, you have to. No, you must. We still have a lifetime to go, remember?

To quote your dearest little writer, Anne Frank, "No one has ever become poor by giving". Yes, I am still content; bloated actually. I love you, more than I love me. And we do know how much I love myself, aren't we? :p

I could not ask any better souvenir than; you, coming home safely to me. Please take good care of yourself there. I miss you and I know you love me so.



Your most annoying,
xoxo


p/s: To love me is called trust, but to love your tummy is a must!

Selasa, 14 Oktober 2014

notion

A choice came after options
that resolved with or without a pray.

To believe is to blindfold oneself;
accepting it as it is
whether December or May.

Truth always hurts,
lie can be harmfully soothing
and that is love it its mysterious way.

Dear dearest,
no matter what turns that you make
I am here to stay.

Khamis, 25 September 2014

Khamis, 31 Julai 2014

now tell me

I want to tell you something
What is it like, mesmerizing?

It's like falling
every time you do a thing,
anything;
the talking, the laughing, the crying,
and even you, sulking!

Now tell me, how can I not love you?

Selasa, 29 Julai 2014

a unison of us

They say a song tells a thousand tales
Of a lost dream; a ship that cannot sail,
a unicorn that has no tail.

And there were you

Quietly writing an unspeakable diary
A lyric of thoughts; happy and misery
along with all the adjectives of humanity.

And here I am.

Shattered; with nothing left but a plead to serenity
A whirl of melancholy,
keeping sanity.

Honey, we are nothing but a broken pieces of memories

Indeed, you and I both have different rhymes
We spoke so many lies, too much crimes
But don't you remember that one time?

A promise of a lifetime we made secretly
For I am nothing but yours truly.

Isnin, 21 Julai 2014

satu panggilan dari cinta yang hilang

Masih kuingat lagi, malam itu begitu hangat dan berbahang. Gadisku sedang tidur di bilik; kepenatan dek seharian bekerja. Ah, dia begitu menjengkelkan kebelakangan ini. Mungkin kerana hormon yang tidak stabil. Aku seperti biasa, akan mendiamkan diri dan berbuat seperti tidak ada apa yang berlaku.

Getaran telefon membuatkanku tersentak dari lamunan. Kucapai dan lihat skrin; nama kamu terukir diatasnya. Nama yang dahulunya mampu menelan segala bingit dunia, sehinggakan tidak ada satu apa pun yang mampu melawan keheningan itu. Aku terkesima melihatkan namamu. Sudah hampir tiga tahun kita tidak berhubungan, bersua apatah lagi.

Aku teragak-agak. Sudah begitu lama sekali. Seolah ratusan tahun telah berlalu ketika terakhir kali kita berbicara. Fikiranku ligat berputar -- menarik kembali kenangan-kenangan kita yang tersimpan di belakang ingatanku -- mengingatkan tentang waktu dahulu kepunyaan kita. Waktu yang terlupakan.

Ketika itu, segalanya adalah tentang aku dan kamu; kita. 

______

"Sayang, adakah masih ada ruang untuk aku di hatimu itu?"

"Demimu, sayang. Angkasa juga tidak pernah mampu untuk berdalih denganmu."

Pertanyaan itu terluncur dari bibir mungilnya ketika kami sedang berehat kepenatan di atas sebuah bukit. Malam begitu cerah tidak berawan. Bintang-bintang yang berserakan di dada langit seolah tersusun membentuk sebuah ukiran berbentuk hati yang memayungi segenap kehibaan yang wujud di atas bumi yang tidak berperasaan ini. 

Zaman ini adalah zaman yang tidak ada lagi rasa belas. Kemanusiaan tidak lebih sekadar sebuah hujah yang digunakan untuk menghalalkan pembunuhan ke atas manusia-manusia kasihan di seberang sana.

"Sayang," bibirnya bergerak memanggilku, "apakah kematian itu begitu menakutkan sehingga ramai yang sedaya-upaya mengelakkannya?"

Hal ini lah yang membuatkannya begitu istimewa. Sentiasa penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku mempersoalkan kembali keberadaanku sebagai seorang manusia. Semalam dia bertanyakan perihal 'Tuhan yang tidak lagi punya belas kasih'. Jika aku boleh menyelami fikirannya, tentu sekali aku akan lemas dalam tekanan-tekanan pertanyaan rumit yang termampat didalamnya; menunggu untuk terhambur keluar.

"Ah, bagaimana mahu aku ungkapkan ya. Begini lah. Setiap orang punya pengalamannya yang tersendiri dengan kematian, baik secara langsung atau tidak. Tapi aku merasakan bahawa, kematian harus dihadapi dengan sesederhana mungkin, sama seperti kita menjalani kehidupan. Kerana dengan menimbangnya secara sederhana baru lah kita dapat menikmati erti kematian yang sebenar-benarnya. Dan daripada itu, ia akan membuatkan kita lebih menghargai kehidupan," aku cuba mempamerkan sisi bijak dalam diriku kepadanya.

"Bagaimana ya, sayang. Jika aku katakan yang kematian 'kita' sudah begitu dekat sekali. Aku dapat rasakannya."

Balasannya membuatkanku putus perkataan untuk menyambungnya.

______

Hari itu merupakan hari terakhir aku menatap wajahnya. Matanya bergenang membasahi pipi, seperti basahnya rumput-rumput yang digenangi hujan ketika itu.

"Tidak ada lagi 'kita' selepas pertemuan ini. Aku dan kamu masing-masing akan membawa haluan sendiri. Aku harap kamu terima keputusanku ini. Ia begitu berat sekali."

Cuma seminggu daripada hari dia mengatakan tentang kematian hubungan kami, dan ia benar-benar berlaku sekarang. Aku tidak petah seperti selalunya; hanya mampu berdiam dan menelan setiap patah yang begitu menyakitkan yang keluar daripada bibir mungil kesukaanku itu.

______

10 saat telah berlalu. Aku mengambil keputusan untuk menjawab panggilan tersebut.

"Helo?" hatiku berdetak kencang menanti balasan suaranya. Sudah terlalu lama.

"Helo, Ah Chai ah? I went to your house just now and your mum said blablabla...."

"Sorry, wrong number," dengan tenang aku memotong percakapan pemanggil di corong sebelah sana.

"Oh, sorry ya, sorry."

Panggilan diputuskan.


Celaka Anita, sampai hati kau tukar nombor telefon tak beritahu aku.

Selasa, 15 Julai 2014

utara-selatan

Sehariku adalah keributan seharian yang ditempuh dengan berbekalkan harapan untuk sebuah pertemuan yang tertangguh; dan harapan itu adalah kerinduanku terhadapmu yang terselit dalam setiap ingatan yang terlepas darinya.

Ahad, 6 Julai 2014

Subagio dan Heidegger

Subagio menggambarkan Sein sebagai "sajak sempurna" yang "sebaiknya bisu seperti pohon, mega, dan gunung yang hadir utuh tanpa bicara". Ia menyingkap dirinya dalam ia bersembunyi di balik kelubung-kelubung keseharian yang banal; seperti "sajak" yang "tetap rahasia", "terungkap sendiri makna dari ketelanjangan bumi".

Dan barangkali, sajak merupakan keluh-kesah kejujuran -- yang terbit tatkala ia didatangi kecemasan.

Khamis, 3 Julai 2014

i

Rindu adalah kesunyian yang dipungut saban malam, dan dirangkai menjadi kalungan cantik penuh sengsara kesendirian; untuk dihadiahkan kepada cinta.

Khamis, 19 Jun 2014

itu apa?

Kerana setiap keputusan yang hadir lewat kecemasan itu menuntut aku untuk meletakkan kamu sebagai pertimbangan.

apa itu?

Cinta sememangnya adalah kesia-siaan yang menuntut kita melakukan hal yang sia-sia. Hingga akhirnya, kita sendiri yang terpuruk kecewa.

Khamis, 12 Jun 2014

seluruhnya

Nafasku adalah hela yang mengungkap apa yang tak pernah mampu untuk dituturkan oleh bahasa: kamu.

Rabu, 11 Jun 2014

desas-desus

Seorang pendengar seringkali juga merupakan seorang penunggu yang tak pernah dihiraukan. Dan teman bicaranya -- yang mendengar kecemasan terdalamnya -- adalah dirinya sendiri.

"Ah, kau tak perlu menanyakannya. Aku sudah lali," ujarnya kepada dirinya sendiri.

Selasa, 3 Jun 2014

XII

Ingat lah pesan seorang petani tentang waktu yang terbenam dalam kelupaan seharian, dan cinta sebagai hal yang ditinggal-tinggalkan.

dulu, kini, dan selamanya (bukan UMNO)

"Seberapa lama lagi kau akan mencintaiku?"

"Seberapa lama waktu yang diperlukan untuk kau membenciku."

Ahad, 1 Jun 2014

tanya sama tuhan

Pertanyaan -- dalam setiap bentuk yang ia ambil -- merupakan upaya untuk mendekati kebenaran-kebenaran yang tertangguh.

Khamis, 29 Mei 2014

XI

Nyamannya hatiku adalah umpama getir-getir seorang kelasi dalam sebuah kapal yang sedang karam dengan perlahan.

Selasa, 27 Mei 2014

only you

I'm a Cartesian who's willing to give myself away. Time, thoughts, soul - all of it. 

Just for you.

israk mikraj

Dan setiap tahun, manusia meraikan usianya yang semakin mendekat dengan kematian.

Sabtu, 24 Mei 2014

Jumaat, 23 Mei 2014

IX

Aku adalah Ada, dan Ada adalah Waktu, dan kamu adalah keseluruhannya.

Selasa, 20 Mei 2014

surat buat Aletheia

Buat duniaku yang senantiasa mencemaskan,

Ketahuilah ketika aku sedang menuliskan surat ini, aku sedang bersendirian ditemani angan-angan yang rapuhnya seperti kayu yang sedang dimakan oleh anai-anai. Ia berlangsung serentak tanpa ada senjang-senjang yang memisahkan antara keduanya -- aku, juga kamu, serta makna-makna yang runtuh di hadapan kita berdua.

Ingatkah kamu akan kisah yang pernah aku ceritakan kepadamu lama dahulu? Kisah tentang seorang gila yang tidak putus-putus menempik zamannya yang kosong ini. Teriakan si gila itu -- jika kamu masih mengingatinya -- disahut dengan derai tawa mereka yang berada di sekelilingnya. Ah, masakan ia tidak diketawakan. Si gila itu membawa suatu khabar yang langsung tidak masuk akal.

"Kita semua... para pembunuh Tuhan." Tuduhan, sekaligus pengakuan yang dibawa oleh si gila tersebut mengungkapkan tentang zaman yang kehilangan ruhnya. Lebih tepat lagi, ia menengking manusia-manusia yang penuh dengan gejolak-gejolak keinginan tetapi tidak sekalipun pernah cuba untuk memahaminya. Manusia-manusia jalang ini membina pengertiannya di sekeliling timbunan-timbunan jasad kaku yang menjaja dongeng-dongeng kebenaran yang tidak langsung pernah ditemukan hakikatnya.

Aletheia,

Kata-kata si gila itu ada benarnya. Zaman ini adalah zaman yang tidak beragama, ia kosong sekosong-kosongnya. Sebuah lohong hitam yang menelan semua kesunyian sehinggakan yang tertinggal cumalah kebisingan-kebisingan yang membingitkan. Aku, dan juga mereka. Kami semua adalah batang-batang tubuh yang dipinggirkan oleh diri sendiri -- dikerjakan sehari-hari oleh penghukum-penghukum yang membeberkan tentang 'kehidupan-kehidupan' yang seharusnya diikuti untuk mencapai kebahagiaan.

Mengapa, Aletheia? Mengapa sampai begitu rumit sekali untuk mendekatimu? Seringkali, aku berfikir, dan fikiran aku melayang kepadamu. Bahkan, fikiran aku itu sendiri adalah kamu! Namun, biarpun demikian, kamu tetap menjadi hal yang berada di luar diriku. Sehinggakan kadangkala; nafasku ini tidak dihela olehku, air mata ini adalah daripada kesedihan orang lain, dan gementar yang hinggap ini tidak datang dari kecemasanku sendiri.

Aletheia,

Aku menata kerinduanku kepadamu lewat doa-doa yang aku sisipkan saban malam sebelum membiarkan kesedaranku hanyut di tengah-tengah lautan tidur yang tidak berjejak mimpi. Kerinduanku adalah seperti jeritan seorang bisu yang berdiri di tengah kerumunan manusia. Begitu nyaring sekali sehinggakan kebisingan-kebisingan yang tidak punya nurani itu turut tersentak dan bungkam. Kerinduanku juga umpama desir angin yang menyapu telingamu. Ia melewatimu dengan senyap seraya menyampaikan pesan-pesan kesedaranku sebelum lenyap bersama kesunyian.

Kamu merupakan puisi yang menyanyikan dirinya sendiri lewat bahasa yang bertutur tanpa memerlukan sepatah kata pun didalamnya.

Kerana kamu, adalah Aletheia.

Jumaat, 16 Mei 2014

Selamat Hari Guru!

Dua hari ini (14 dan 15 Mei) merupakan hari yang panjang, sangat panjang saya kira. Bukan tentang tempoh masa yang saya katakan di sini, tetapi hal-hal yang sangat tiba-tiba sifatnya. Tentu sekali, ia bukan lah sesuatu yang janggal kerana hidup memang penuh dengan ketiba-tibaan.

"Cuma 20 tahun, dan aku sudah sesedih ini. Entah apa lah yang nenek rasa, kan? Hampir seumur hidupnya adalah untuk datuk," adikku menyoal ringkas. Perjalanan saya ke Kuantan semalam sememangnya tidak langsung terlintas dalam perancangan -- sepupuku menolak untuk ikut sama pulang bersama adik.

"Pasti kosong," saya membalas pendek.

Rutin bagiku, adalah hal yang melelahkan. Menurut aturan-aturan rutin membuatkan kita langsung menjadi banal -- terhisap dalam tuntutan-tuntutan keseharian yang tidak pernah surut. Oleh kerana itu, saya seboleh-bolehnya akan mengelak daripada terjerumus dalam sebarang bentuk hubungan yang mengikat -- yang menuntut waktu kepunyaan saya. Jadi, tidak hairan juga jika saya masih lagi bergelut dengan jam-jam kredit yang masih lagi tidak mencukupi pada waktu-waktu genting sebegini.

Namun, saya kira, lain halnya dengan mereka yang sedang bercinta. Waktu -- tentu sekali, bukan waktu palsu yang biasa kita hadapi sehari-hari -- mereka adalah juga waktu temannya. Waktu yang asli, adalah Ada itu sendiri, dan Ada bermaksud diri sendiri. Lantas mereka yang berkongsi waktu untuk temannya, bermaksud juga berkongsi dirinya dengan teman tersebut. Kesedarannya adalah kesedaran temannya, begitu juga sebaliknya. Kehilangan teman, boleh saja mengunjuk kepada hilangnya kesedaran seseorang. Barangkali, itu sebabnya wujud mereka yang hilang akal kerana cinta, kerana kesedarannya sudah mati.

Kematian adalah hal yang mengharukan, tetapi ia tidak langsung terkandung kesedihan. Ah, kematian  sememangnya tidak patut untuk disedihkan! Bagiku, yang menyedihkan adalah "suasana" kematian, bukan lah kematian itu sendiri. Manusia, seperti yang ditulis Heidegger, tidak sahaja hidup-dalam-dunia, tetapi ia memukimi dunia. Manusia menemukan kewujudannya dengan mendunia, terjun ke dalam keseharian yang menyesakkan. Pertemuan dengan manusia-manusia lain tidak saja berlaku dengan begitu sahaja tetapi melibatkan persentuhan-persentuhan yang mengesankan antara satu dengan yang lainnya. Lantas, apabila seseorang itu meninggalkan dunia ini, jejak-jejaknya tertinggal dan memberkas dalam diri mereka yang bersentuhan secara intim dengannya.

Jejak-jejak ini dapat ditemukan dalam setiap tempat yang pernah dimukiminya. Jejak ini tidak sahaja ada dengan begitu sahaja, tetapi dikerjakan dengan mereka yang lain secara bersama. Justeru, hal yang tertinggal lewat pengerjaan ini adalah ingatan -- yang sentiasa melekat dan tertinggal dalam setiap jejak yang terhasil. Hal ini menjelaskan tentang "suasana" yang mengewap dalam rumah tersebut. Ingatan-ingatan yang terhasil tidak terpadam bersama perginya tubuh tersebut, tetapi tertinggal di setiap penjuru rumah. Kesedihan hadir lewat ingatan yang dikerjakan bersama dengan ia-yang-sudah-pergi. Begitu juga halnya dengan kegembiraan, dan setiap apa yang dapat kita rasakan. Ia terhasil secara bersama, dan mampu untuk terus langsung walau tanpa pasangannya.

Sepanjang ingatanku, datuk adalah seorang guru yang sentiasa menyampaikan pesan kepada anak cucunya. Setiap kali rumah tersebut terpenuh, dia akan memanggil kami semua dan berpesan tentang tanggungjawab yang harus dilaksanakan sebagai seorang manusia. Pesan yang kami pegang supaya tidak lemas dalam keseharian yang dilewati saban hari.

Selamat hari guru, datuk. Semoga mengecap bebas di sana.

Rabu, 14 Mei 2014

VIII

Katakan lah, tentang seorang pendusta yang sentiasa berbicara akan kebenaran.

Selasa, 13 Mei 2014

dan kesedaran adalah kamu

"Laila, detik kegemaranmu sudah hampir."

Matahari beransur perlahan -- menitip kegelapan yang dikit-dikit. Senja adalah detik yang merentang antara panorama pegun yang sentiasa bertukar-tukar wajahnya. 

"Lukisan yang paling cantik ialah lukisan yang dicuri dari tuannya," Laila memetik ungkapan yang pernah dibacanya entah dari mana atau di mana. "Lihatlah palit-palit warna garang yang semakin berubah tonanya. Ah, sungguh ajaib sekali!"

Suasana tidak pernah berubah. Hal yang sering berubah setiap kali cumalah hati yang tidak pernah henti berbolak-balik. Laila menyedari semua itu, tetapi manusia tidak terciptakan lewat apa adanya, kerana manusia tidak pernah pun berada.

"Pernahkah kau terdetik untuk meninggalkan dunia ini dengan kerelaanmu sendiri?" Laila memandangku dengan curiga. "Sungguh aneh sekali kita ini. Berjalan, tapi tidak pernah berjejak. Bernafas, tapi tidak pernah pula hidup."

Ruwet-ruwet yang Laila patahkan itu tidak mendapat anggukan daripada aku. Barangkali Laila tidak menyedarinya. Hela yang dilepaskan tidak pernah gagal untuk disambut oleh aku. Dan barangkali juga, Laila, seperti mereka yang lain, tidak pernah cuba untuk mengerjakan seorang kemanusiaan.

"Ah, betapa asing sekali menempelnya sebagai seseorang. Siapakah dia? Aku pasti, dengan menendangnya ke tepi begitu saja, kau tidak akan pernah mampu untuk mengenalinya," sekali lagi, Laila berbicara rumit. "Bagaimana mungkin kau menemukan erti dengan menolak maksudnya sendiri?"

Serentak dengan pertanyaan Laila tersebut, matahari langsung menghilang. Kegelapan adalah kebebasan, dan persamaan antara keduanya ialah -- ianya mengundang ketakutan. Namun, ketakutan bukan apa-apa jika hendak dibandingkan dengan hal yang terselubung didalamnya. Lebih gelap dari kegelapan, wujud sesuatu yang menggugah kesedaran. Itu lah kecemasan.

"Ingkar adalah perlakuan yang menegaskan keberadaan kau. Berbuat demikian menandakan bahawa kau masih ialah kau, walau sekecil manapun keingkaran itu," mata coklat Laila penuh pengharapan. "Sampai setakat mana kebenaran itu boleh ditangguhkan?"

Kebeningan Laila sedikit menyentakku dari lamunan. Aneh, penegasan yang dilakukannya membuatkan Laila menjadi semakin jelas dihadapanku. Kewujudan adalah kehampaan. Untuk wujud adalah untuk mencipta maksud -- lewat maksud-maksud yang kita temukan dalam getir-getir pertemuan kita bersama kesendirian.

"Dan bagaimana mahu kau jelaskan rasa yang memberontak ini? Seolah dadaku sampai hendak terkopak diterjangnya," buat pertama kalinya, Laila kelihatan bingung. "Gila, sungguh menggilakan."

"Ah, Laila. Matahari sudah hampir terbit. Sampai ketemu lagi, Waktu-ku."

Sabtu, 10 Mei 2014

terbang lah kupu-kupu

Terbang lah kupu-kupu terbang bersendiri
hinggap di mawar layu melampir sanubari
biarkan aku biar aku terus begini
bungkam kaku bergulir sunyi.

Terbang lah kupu-kupu terbang berpasangan
terpenuh dengan madu gembira berkejaran
semuanya kamu semuanya kesedaran
bersama aku menjadi keseluruhan.

Terbang lah kupu-kupu terbang berkelana
menangkap sepoi bayu bersimpuh bunga
apakah aku apakah kesemuanya
menjadi derai debu di hadapan dunia.

Terbang lah kupu-kupu terbang bersamaku
bersetubuh dengan waktu menghambat buntu
ajarkan aku bahasa cinta mu
kerana pada kamu terletak duniaku.

VII

Kesedaran yang menggugah kesedaran. Cinta sememangnya gila dan menggilakan.

Khamis, 8 Mei 2014

VI

Apa rasanya untuk duduk dan berbicara dengan diri sendiri? Pasti ianya mencemaskan!

Selasa, 6 Mei 2014

V

Di hadapan kamu, falsafah bertukar menjadi tidak lebih sekadar teks-teks akademik yang kering dan membosankan.

Selasa, 29 April 2014

IV

Manusia tidak sendirian cemas melainkan terkait dengan kesedaran tentang yang-lain. Kecemasan mendekat-secara-bersama. Detik seorang aku meragukan kewujudannya adalah detik aku tersebut membuka dirinya kepada yang-lain.

Lantas, Ada seorang aku merupakan Ada yang-lainnya.

Jumaat, 25 April 2014

III

Membuat keputusan adalah detik sendiri yang mencemaskan.

Rabu, 23 April 2014

dasein

Setiap hari pun Aku lebur - "hilang bentuk" dan "remuk" seperti kata Chairil - menjadi derai-derai yang berserakan di dalam dunia. Hal ini berlaku pada malamnya. Ketika fajar menyingsing di pagi hari, derai-derai itu kembali bercantum - membentuk Aku yang bukan-Aku-semalam. Dan begitu lah saban hari. Aku hancur dan tercantum semula untuk turut serta bersama aku-aku yang lain dalam praktis keduniaan yang banal ini. Dalam mendunia, manusia tidak langsung pernah terjadi melainkan hanya terus-terusan menjadi sampai ia mati.

Ahad, 13 April 2014

II

Hidup biar dengan sepenuhnya, mati biar sampai sehabisnya.

Jumaat, 11 April 2014

French Kiss

Sudah tiga tahun, dan ini kali pertama saya menulis sejak itu. Begitu susah sekali hendak memulakan sebuah tulisan. Apalagi hendak menghabiskannya, bukan? Lewat petang semalam, saya duduk berbual dengan seorang rakan. Rutin harian yang menggembirakan bagi orang seperti saya yang dihimpit dengan segala macam tuntutan agar menjadi seperti-apa-yang-mereka-jadi. 

"Hiburan kita, masyarakat tertindas ini cuma tinggal melepak dan bola sepak," rakan saya berseloroh tajam. Sememangnya begitu. Tidak ada apa lagi yang menarik selain duduk membuang masa -- melarikan diri sebentar dari kerja -- bersama rakan-rakan sambil ditemani kopi panas dan kegelisahan-kegelisahan tentang kewujudan. Barangkali, kata "eksistensial" terlalu mengawang dan sering dijaja sehingga hilang ertinya. Tidak ada yang janggal pun tentang itu. Kita semua melaluinya saban hari. Patah-patah perkataan yang sengaja dilontarkan dengan sinonim-sinonimnya yang langsung tidak pernah kita dengar! Ah, begitu menjengkelkan.

Pun begitu, setelah tiga tahun mendiamkan diri, saya menemukan kekuatan untuk menulis sedikit cerita pendek tentang pengalaman saya selama ini. Usah bimbang. Ia akan habis dalam empat perenggan lagi kerana saya akan kehilangan perkataan sedikit masa lagi. Oh, tidak. Saya bukan seorang yang pelupa. Cumanya, semakin lama saya menulis, semakin larut saya dalam tulisan. Dan ini bukan suatu hal yang bagus memandangkan ia membuatkan saya cepat mengantuk!

Berani. Itu sahaja yang mampu saya katakan kepada mereka yang menulis tanpa menggunakan nama pena. Mengapa saya katakan begitu? Tuan-puan, menulis adalah kerja yang sangat bahaya! Tapi ia tidak sama seperti menulis di laman-laman sosial -- Facebook atau Twitter. Tulisan-tulisan sebegitu barangkali adalah usaha untuk menutup ketidakupayaan diri sendiri. Menulis -- dalam erti kata yang sebenarnya -- bermaksud membuka diri kita yang sebenarnya. Bertelanjang di hadapan dunia dan merelakan setiap inci diri kita untuk ditekuni. Menulis adalah aksi di mana kita menumpahkan kesaksian paling luhur terhadap diri ke dalam bentuk tulisan untuk dikongsi dengan mereka di luar sana. 

Menjadi penulis tidak ada bezanya dengan menjadi seorang pelakon filem porno. Penulis menelanjangkan jiwanya; membangkitkan syahwat pembaca untuk terus menekuninya. Pembaca mencapai ejakulasi dengan fikirannya bersama fikiran penulis tersebut. Saya fikir, tugas seorang penulis sama mulianya dengan tugas seorang pelakon filem porno. Mereka dari satu segi, mampu membebaskan penonton yang menatapnya.

Namun, di satu sisi yang lain, penulis juga berkongsi kehinaan yang sama dengan pelakon filem porno. Hampir kesemua daripada mereka ialah penipu! Seperti Dorian Gray yang menyembunyikan kejahatannya dalam sebuah potret, begitu juga dengan kedua-duanya. Apa yang diperlihatkan adalah penipuan yang dikelubung dengan keintiman-keintiman palsu yang meloyakan. Mereka menjadi dewa-dewi dengan mengambil kesempatan atas kedahagaan-kedahagaan penonton terhadap kasih sayang.

Setakat hari ini, saya masih lagi tidak menemukan jawapan untuk soalan pertama yang sentiasa saya tanyakan ketika bangun di pagi hari. "Apa yang aku buat di sini?"

Selasa, 8 April 2014

I

Udara adalah kehampaan yang dihirup saban hari agar kita dapat terus dikecewakan oleh kehidupan.

Isnin, 7 April 2014

aku punya sebuah mimpi

Aku punya sebuah mimpi
tentang keindahan seorang puteri
yang menghunus sebilah taming sari
Darah mengucur sakitnya tak terperi

Masakan tidak ada yang memberitahuku;
Hati-hati dengan kecantikan, sungguh... 
ia membunuh!

Masa lalu yang terdera adalah neraka
yang kita pikul tanpa waspada
Menidakkan kesemuanya dalam kita jaga
sehinggakan segalanya tertinggal sia-sia

Ia umpama bayang
Mengikut rapat sambil menyindir dari belakang
Atau melekat di sisi dengan suara-suara sumbang
Atau juga melewat di depan seraya membutakan pandang

Sampai satu waktu kita sendirian termangu

Rindu ini terus ada
Siapa punya?

the whisper

If you share the same thoughts and feelings with me, do tell, because I wouldn't want to miss what might probably be the greatest thing ever happens in my life.

Jumaat, 4 April 2014

nanti dulu

Kehujanan kita di tengah pagi
yang mataharinya memancar sayu
Gusar menanti dengan keletak gigi
meminta agar awan cepat berlalu

Hujan tidak meminta dirinya
melainkan angin menghalau pergi

Seperti perlakuan bayang-bayang;
siluet-siluet yang bersiul menakutkan

Sementara kita adalah derai-derai yang malang

Sentiasa memohon Tuhan memberi jeda
agar menunda sesuatu yang pasti
sedang kita makin dilupakan

Barangkali saat kita mula membilang
menjadi saat segalanya hilang.

kita mahu bebas

Puisi adalah doa yang terkurung. Dan hilang sejurus ia dinyanyikan.

Selasa, 1 April 2014

D. U. B. L. I. N.

Kepercayaan adalah sebuah keterbatasan yang membuatkan kita meringkuk dalam penjara makna. Ironinya, keterbatasan yang memenjarakan itu juga menjadi tanda bahawa kita ialah manusia.

Pemahaman terhadap hidup, menurut Kierkegaard, diperoleh dengan menoleh ke belakang; meneliti cerita-cerita yang terhampar sepanjang sejarah berjalan. Namun, ia tidak seharusnya terhenti setakat itu. Heidegger mengajak kita untuk menekuni hal-hal kecil yang berlaku di sekeliling kita. Memahami bermaksud mengerjakan. Pemahaman diperoleh lewat tugas-tugas yang dikerjakan dengan sungguh-sungguh. Kesatuan yang wujud antara tubuh dan jiwa.

Makna tidak boleh dicampak dengan paksa ke dalam masyarakat untuk diambil mentah-mentah. Ia harus ditunda, lantas dilekat-lekatkan dengan pertemuan-pertemuan lain yang berlangsung. Barangkali, seperti yang disarankan di dalam novel ini; dengan berjalan. Ia berupaya untuk "menangguhkan kebenaran".

Dan barangkali, kebenaran, seperti sindiran tajam Baudrillard, tidak lebih sekadar fiksyen-fiksyen yang harus ditertawakan.

Jumaat, 28 Mac 2014

reminder

They say, "Revolution is the highest stage of treason".

I say, "Revolution is not an option".

Khamis, 27 Mac 2014

nihil

Asap rokok yang berkepul menjadi tanda bahawa solidariti bermaksud kesendirian.

Selasa, 25 Mac 2014

menjadi

Menjadi tirani bermakna untuk menjadi sendiri.
 
Ah, betapa kekarnya ia berdiri
dalam sepi yang tak kunjung sunyi.

Mengatur untuk melangkah pergi
mendaki cita-cita beroleh abadi.

Bersedia untuk tidak kembali lagi.

Isnin, 24 Mac 2014

lewat kata

Tuhan adalah kesanggupan manusia untuk menjelaskan; dalam ketidaksanggupannya memberi makna terhadap yang-tak-terbatas.

suatu ketika

Rindu sepoi-sepoi bertiup
saat cinta sayup-sayup pergi.

Rabu, 19 Mac 2014

menjadi seorang Rust Cohle

Rupa-rupanya, terdapat sesuatu yang lebih dalam daripada dasar kegelapan. Seperti kerak bumi yang melindungnya; melampaui kegelapan adalah kegelapan yang paling nyata. Dan di dalam kegelapan itu ditemukan jiwa seorang manusia.

Ahad, 16 Mac 2014

sosok

Saya tidak melawan agama, tetapi tirani. Jika tuhan itu merupakan diktator, maka saya juga akan bangkit dan menentangnya sampai habis.

Jumaat, 14 Mac 2014

tugu-tugu yang diperbuat daripada emas

Barangkali benar kata Freire; kita yang terus-terusan menjadi sang tertindas ini berkongsi ketakutan yang sama dengan sang penindas di atas sana; ketakutan terhadap kebebasan.

Kebebasan sememangnya membingungkan; baik sebelum atau sesudahnya.

Khamis, 13 Mac 2014

apa selepas itu?

Barangkali benar seperti yang diperkatakan. Kita cuma mampu mengimpikannya, dengan rancangan-rancangan yang telah kita susun. Namun, revolusi hanya berlaku dalam keadaan yang sangat tiba-tiba. Sebuah aksi spontan yang di luar genggaman kita. Ia muncul, apabila ia berkehendakkan begitu.

Jika ditoleh ke belakang, revolusi hadir dalam keadaan kita paling tidak bersedia untuk mendakapnya.

Isnin, 10 Mac 2014

usai sebuah pembunuhan

Seorang gila yang memegang lantera
merempuh pasar di siang hari.
Kita pernah mendengarnya di mana-mana.

Kegilaan yang berdiri sebagai penyata
akan sebuah kematian intuisi.

Fajar yang terbenam di ufuk zaman.

Di masa yang kacau-bilau ini,
minda menjadi pemain utama
yang menggerakkan manusia.

Mereka menyangkakan ia sebagai kemajuan.
Lantas dengan megah mereka membunuh nurani;
kepercayaan diikat pada fakta-fakta
yang dilaporkan oleh penganut kuasa.

Kita diceritakan lagi tentang kedatangan Zarathustra.

Sebuah kewujudan yang sungguh-sungguh mengujakan!
Janji-janji tentang kesempurnaan;
jalan kepada seorang penguasa.

Para pembunuh itu mengagumi kehidupan
sepertimana mereka mencela kematian.

Barangkali, Zarathustra cuma sebuah karakter
yang direka secara sinis untuk memerihalkan
manusia-manusia yang diperangkap penipuan.

Sindiran pedas terhadap erti kejujuran
lewat manusia yang sering terlupa bahawa;

Doa juga merupakan suatu tindakan revolusioner.
Ia bukan ratapan,
tetapi suatu tindakan melawan;
suatu penegasan tentang sebuah kewujudan.

Jumaat, 7 Mac 2014

dekonstruksi

Dekonstruksi tidak mencerminkan kehancuran penuh. Ia menunjukkan bahawa tidak ada satu hal pun yang punya bentuk asalnya. Segala usaha penggaluran nasab akhirnya akan menemui kehampaan.

Seperti yang disarankan Derrida, dekonstruksi bermaksud menunda makna. Kita mentafsirkan sesuatu hal, dengan menghubung-hubungkan makna-makna yang bersinggung dengannya.

Kerana kata "Tuhan" pun tidak berdiri dengan kemutlakannya sendiri.

Selasa, 4 Mac 2014

ponen

Ada dua jenis manusia yang suka mengungkit bila dia tolong orang.

1. Ahli politik.
2. Barua.

Kalau awak rasa awak bukan ahli politik, maknanya awak barua (baik secara literal mahupun figuratif).

Hujan Pagi

Kebebasan warga, tutur Locke, merupakan perkara pertama yang perlu dititikberatkan dalam bernegara. Negara, dengan segala keupayaan yang dimilikinya, harus dikekang - baik dengan suara, tindakan, mahupun niat.

Warga hadir terlebih dahulu sebelum Negara, kerana tidak ada Negara yang mampu berdiri dengan utuh tanpa pengakuan daripada warganya.

Justeru, himpitan-himpitan kebebasan dan hak asasi yang membelenggu ini harus dipecahkan. Kita mengambil struktur Inggeris, tetapi tidak budayanya. Bukan. Bukan keinginan kita untuk mengambil sepenuhnya gagasan Inggeris tersebut, tetapi bukan kah kebebasan itu merupakan perkara paling pokok dalam setiap perbahasan tamadun?

Tulis Pak Samad dalam Hujan Pagi, "Apakah peranan akhbar saudara itu 'pengghairah', 'pelapor', 'pendakwah', atau 'pengekor'?".

Isnin, 3 Mac 2014

Pompeii

Sejarah diam dalam ia tidak diam. Diam, dalam erti kata ia tidak bercerita bagi pihaknya. Tidak diam, memandangkan ia terus-terusan mengajukan pengajaran.

Sejauh sejarah diceritakan, mereka yang bercerita menawarkan peristiwa-peristiwa besar yang gegak-gempita, umpama letusan gunung berapi Pompeii yang menghancurkan sebuah kota.

Namun, sejarah menjadi saksi akan serpihan-serpihan peristiwa kecil yang bertaburan di dalam peristiwa besar tersebut. Renungan, yang tidak sahaja memukau pandangan, malah menangkap jiwa yang sekian lama terbelenggu. Tatkala jiwa terlerai dari tubuh yang mengeras hangus, setiap daripada mereka menegaskan kewujudan mereka selaku seorang manusia. Penegasan tentang sebuah kebebasan.
 
Dan sejarah dengan senyap menceritakan; kebebasan paling luhur ditemukan seusai mati.

Sabtu, 1 Mac 2014

tanda

Sejarah; bermula era ini sudah dinafikan. Di dunia seberang sana, mereka menolaknya. Baudrillard tidak sahaja mengajak kita untuk menonton sebuah tayangan komedi tentang kebenaran, malah beliau sama sekali merengkuhnya. Tidak ada kebenaran sejati melainkan sekadar cerita-cerita dongeng yang direka untuk kita berpaut kepadanya. Fiksyen.
 
Manusia sejak awal dahulu mendapatkan makna dirinya daripada persekitaran. Simbol, yang dituturkan oleh Baudrillard sebagai tanda. Tanda tersebut melekat pada diri manusia bersama-sama dengan maknanya. Tidak ada yang sia-sia. Tanda hadir, kerana keperluan untuk mengungkapkan makna tersebut.

Namun, itu cerita dahulu. Lewat industri, tanda menjadi tidak terkendali. Setiap hari kita dilimpahkan dengan pelbagai macam tanda yang, barangkali tidak punya makna walau satu apa pun. Bahkan, kita diajak untuk beriman dengannya!

Nyata, zaman kini manusia tidak lagi menggunakan tanda untuk mengungkapkan makna. Sebaliknya, tanda hadir terlebih dahulu sebelum disusulkan dengan makna. Kita mendapatkan makna daripada tanda-tanda, yang terkandung set-set nilai tertentu berbentuk objektif.

Misalnya, kita diajar satu set nilai yang perlu ada dalam kecantikan. Tentu sekali, ia terkandung kemungkinan-kemungkinan subjektif yang tidak terkira, tetapi lewat tanda yang kita hadap sehari-hari, kita mungkin sahaja mempunyai tanggapan-tanggapan yang hampir serupa tentang hal tersebut. Lain daripada itu, cukup sahaja dengan contoh hidangan Happy Meal di McDonald. Hidangan tersebut menggambarkan kebahagiaan. Justeru, kita mempunyai sebuah tanggapan bahawa dengan mengambil hidangan tersebut akan membuatkan kita bahagia.

Makna tidak lagi melekat dengan diri kita, bahkan kita terpaksa mengambil apa sahaja tanda yang ada, untuk dimaknakan, sesuai dengan keperluan kita.

Ia merupakan kebejatan zaman ini. Konsumsi, yang lahir daripada rahim kapitalisme membeberkan kesia-siaan yang pada akhirnya direnggut dengan rakus oleh kita semua.

Mengulang kembali Baudrillard; fiksyen-fiksyen. Tidak ada lagi Kebenaran melainkan lambakan kebenaran-kebenaran yang kita ambil untuk diberikan maknanya.

Sebuah komedi bukan? Kita berebut-rebut menaruh iman kepada dongeng-dongeng kosong yang ditulis dengan sambil lewa atas nama keuntungan.
 
Persoalannya, setakat mana fiksyen yang kita anggap sebagai "kebenaran" itu mampu memapah kita?

Mengambil saranan daripada kehampaan-kehampaan mereka yang terbit daripada kapitalisme; seharusnya, kita menutup deria kita daripada kebisingan-kebisingan tanda yang berserakan, lalu, dengan sabar menuntut kembali kewujudan diri kita.

Selasa, 25 Februari 2014

mereka yang menafikan sejarah

Perancis, di awal abad ke-21 memaparkan sebuah peperangan antara manusia dan sistem. 

Bagi fenomenolog, "Kesedaran, tidak sahaja hadir pada diri, tetapi melampauinya. Berdiri bersama-sama dengan kehadiran dunia dan mereka yang lainnya."

Tidak, tidak. Manusia sudah tercampak dari pusatnya.

Strukturalis lantang menempik tentang zaman manusia yang sudah berakhir, ""Aku" sudah retak, langsung bisu. Lantas wujud suara lain yang berbisik dalam "aku", yang bernama sistem."

Foucalt, dalam ucapannya menyebut, "Seluruh zaman kita berusaha untuk melepaskan diri daripada Hegel, entah dengan logika atau epistemologi, entah melalui Marx atau Nietzsche."

Jumaat, 21 Februari 2014

lewat

Aku boleh menerima pagi yang lewat hadir, tetapi tidak ada esok lewat kamu.

Selasa, 18 Februari 2014

Sabtu, 15 Februari 2014

hakikat

Dari aku,
Yang diperuntuk dengan takut

Lewat rindu yang tak pernah hadir
Melainkan janji-janji pertemuan masa lalu
Lantas semua kita melutut

Menengadah; mengharap belas ihsan
Entah daripada siapa atau apa?

Di jajaran yang penuh kegilaan
Kita menemukan kekecewaan tentang manusia

Kebebasan dan cinta hanya sebuah takdir.

Selasa, 11 Februari 2014

the proposal

I do not have much to offer. But will a lifetime be a good bargain for your soul?

Ahad, 9 Februari 2014

Sabtu, 8 Februari 2014

bising

Maya; surreal dan berlebihan nyata. Dan tatkala kita ditelan kebisingan-kebisingan tersebut, kita hampir terlupa untuk menjadi diri sendiri.

Khamis, 6 Februari 2014

tentang menjadi kuat

Kadang, kita mencari kekuatan daripada penulisan-penulisan mereka yang barangkali tidak pernah kita kenal secara langsung. Kita mengenal mereka melalui penulisannya, bahkan kita menemukan erti diri daripada tulisan-tulisan tersebut.

Begitu juga kiranya dengan Tuhan - yang tidak pernah kita kenal dan bersua. Namun, kita berdoa kepadanya, melalui hasrat-hasrat yang ditemukan lewat pemahaman kita baik terhadap teks, alam atau manusia.

Bezanya, setiap detik yang dilalui merupakan persinggungan langsung antara kita dengan Tuhan.

Rabu, 5 Februari 2014

tradisi-tradisi di Eropah

"Oh, Iylic. Sudah sebegitu lama kau tercegat di sini. Mahu kah kau masuk sebentar dan mencecap kopi panas? Keadaan di luar sangat sejuk waktu-waktu begini."

"Anna... Anna... Anna. Berapa lama lagi harus aku tunggu?"

"Selamanya, Iylic," balas Anna dengan senyuman.


****


"James, makanan sudah siap."

"Sempurna seperti biasa, Mary?"

"Tentu sekali! Seperti kebiasaan nenek moyang kita sejak sekian lama," ujar Mary dengan patuh.


****


"Friedrick, sudah seharian kamu merenung pokok epal itu. Apa yang kamu nantikan?"

"Aku sedang menunggu saat janggal yang luar biasa. Saat yang kita sering lepasi dengan sambil lewa."

"Oh, Friedrick. Saatnya akan tiba untuk itu," wanita tersebut lantas berlalu pergi.


****


"Sampai begitu menarik sekali semut-semut itu, Louis? Begitu tekun kau memerhatikan mereka sedari pagi tadi."

"Simone, jangan salah faham. Apa yang menarik minat aku bukan semut-semut ini, tetapi bagaimana koloni mereka terbina dan berfungsi."

"Sangat tidak masuk akal, Louis. Mereka cuma haiwan yang sudah ditentukan," Simone memijak semut-semut yang berada dikakinya.

Jumaat, 31 Januari 2014

new things, old things

We replace the old ones with new ones without realising that they are just the same, in different ways.

Ahad, 26 Januari 2014

meninggalkan masa lalu

"Ideologi", ujar Althusser, "tidak punya sejarahnya yang sendiri". Ia lahir dari dalam diri seorang individu konkrit yang secara sedar memberikan pengakuan kepada dia yang memanggilnya - menjadi subjek kepada kepercayaannya.

Lantas ideologi merupakan ilusi terhadap sebuah kepercayaan yang tidak dapat diungkap, serta dalam masa yang sama, ia merupakan realiti yang mengungkapkan diri seseorang tersebut.

Mirip sekali dengannya, Levinas menyarankan sebuah pengakuan. Seorang Aku yang meletakkan keberadaan dirinya untuk diisi oleh Yang-Lain. Harapannya adalah harapan untuk Yang-Lain. Cita-citanya merupakan keinginan untuk membahagiakan Yang-Lain.

Cinta bagi seseorang tidak mempunyai akarnya. Ia hadir secara tiba-tiba. Mencintai Yang-Lain adalah untuk menjadi Aku.

Selasa, 14 Januari 2014

finale

Kita ketawa dan terus ketawa sehingga kita tersedar yang pengakhiran itu semakin hampir. Dan kita ketawa lagi, sambil melakar janji-janji pertemuan dengan air mata.

Kerana perpisahan itu tidak sentiasa menggembirakan.

Jumaat, 10 Januari 2014

tahun baru

Termimpikan kematian pada minggu pertama 2014. Paling banyak berbanding kesemua tahun sebelumnya.